Dalam perspektif kosmologi Timur, setiap makhluk Tuhan selalu terdiri atas dua komposisi, yaitu maskulin dan feminin, atau yin dan yang. Mulai dari makhluk makrokosmos sampai makhluk mikrokosmos. Bahkan, jika dilihat lebih mikro lagi, ternyata setiap orang masing-masing mempunyai komponen otak kanan yang memerankan peran kreatif (maskulin) dan otak kiri yang memerankan peran analitikal (feminin).
Konsep keterpaduan dan kesepadanan antara dua unsur tersebut sangat penting, bukan hanya dalam kehidupan makrokosmos, tetapi juga dunia kemanusiaan. Jika seseorang atau masyarakat terlalu didominasi oleh kualitas maskulin maka yang terjadi adalah perkembangan yang berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan alam dan lingkungan sosial, dan pada akhirnya bukannya meningkatkan martabat tapi malah menurunkan derajat kemanusiaan.
Maskulinisasi yang terjadi diseluruh lini kehidupan masyarakat, tidak bisa dianggap remeh karena ibarat gunung es, fenomena yang muncul dipermukaan memiliki akar permasalahan lebih besar yang tersimpan di dasar laut. Masyarakat yang over maskulin sudah barang tentu akan membayar harga sangat mahal, bukan saja, menanggulangi berbagai kerusakan fisik dan non-fisik tetapi juga membutuhkan waktu yang tidak pendek untuk melakukan recovery keseimbangan komposisi maskulin-feminin di dalam masyarakat.
Over maskulin harus dianggap sebagai kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran teologi karena bahayanya bukan hanya berdimensi horizontal sesama makhluk tetapi juga berdimensi vertikal, berupa pelanggaran tatanan hukum Tuhan tentang keseimbangan alam makrokosmos sekecil apapun perilaku manusia sebagai makhluk mikrokosmos akan berdampak kepada makrokosmos.
Kebangkitan spritual merupakan tantangan alternatif yang harus diwujudkan guna mengangkat kembali martabat kemanusiaan. Pengalaman pahit bangsa Indonesia pada tahun-tahun terakhir ini seharusnya menyadarkan, bahwa ada yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat kita. Musibah beruntun sudah tentu bukan suatu sebab tetapi merupakan akibat dari berbagai pilihan masa lalu yang keliru.
Catatan:
Potongan tulisan dengan lima paragraf yang diambil dari buku ini dituliskan ulang tanpa mengubah tiap kata atau kalimat dari penulis asli.
Sumber: Umar, Nasaruddin. 2014. Islam Fungsional, hal 96-97. Jakarta: Elex Media Komputindo.