Beneath The Concrete, The Forest (2)

“HUTAN ADALAH SEBUAH GERBANG”

Hutan adalah sebuah gerbang. Balok-balok beton itu menyebar luas, mengizinkan masuk ke dalam tempat yang dipenuhi grafiti. Peri-peri anarkis dan makhluk-makluk jahil lainnya telah melukis, menggores, menempelkan, dan meninggalkan tanda di mana-mana untuk menyampaikan sambutan kami, kesetiaan kami pada dunia baru yang memanggil ketulusan dan keberanian hati kami. Ketika kami berjalan di jalur kebebasan, pusaran-pusaran ungu membentuk pesan-pesan yang menuntun kami layaknya remah-remah roti[1]. Kaum peri kami pun bermunculan di sekitar kami dengan kain kasa, denim, dan logam, serta dengan elegan mengabaikan gender. Memasuki alam liar, kami kembali pada diri kami yang berdebar: kehijauan yang intim ini.

[1] Remah-remah roti dapat diartikan sebagai petunjuk, mengacu pada kisah Hansel dan Gratel yang meninggalkan remah-remah roti di hutan agar bisa menemukan jalan pulang

“SURAT DARI SEORANG PENGHUNI POHON”

Aku telah mempersiapkan diriku untuk sesuatu yang rasanya tidak bisa terhindarkan: Sebuah penyerbuan, sebuah usaha ekstraksi –ataukah mereka akan memilih untuk mengepung?

Aku telah terikat dengan rumah pohonku dan menganggapnya seakan sebagai bagian dari diriku sendiri. Aku menemukan diriku bertanya tentang hal ini, tentang

Koneksi yang aku rasakan dengan sebuah bangunan temporer. Namun aku sadar bahwa apa yang kurasakan lebih dari itu. Dari tingginya kakiku di atas kanopi hingga akar yang terkubur dalam di bawah tanah, aku bisa merasakannya. Aku bertanya-tanya apakah energi yang kurasakan ini penuh kedengkian, tanah yang begitu terluka, berlumuran darah, dan tak pernah diberikan kesempatan untuk sembuh. Apakah aku of sini karena dendam? Ya. Namun dendam yang kurasakan pada polisi juga lahir dari cinta: cinta terhadap tanah ini dan teman-temanku di sini serta di luar sana. Hutan ini bukanlah sesuatu yang akan kuserahkan begitu saja tanpa sebuah perlawanan.

Setiap penundaan membuka kemungkinan baru. Setiap kontraktor yang mundur membawa kami semakin dekat pada kemenangan. Setiap gerak-gerik kami semakin membuat mereka bertanya-tanya. Entah mereka memilih untuk menghancurkan rumah kami atau tidak, aku akan tetap berada di sini mempertahankan perjuangan ini. Aku akan berada di sini sebisa mungkin, selama apa pun itu. Mereka bisa mencoba untuk mengusir kami, tapi mereka tidak akan bisa membuat kami berhenti melawan.

Ada kebahagiaan dalam perlawanan kami. Semangat ini, hutan ini, tidak akan pernah bisa dibendung. Ke mana pun kau layangkan pandanganmu, para polisi akan mencoba untuk meremehkan dunia kami, mengecilkan hidup kami. Namun kami telah memilih untuk mengatakan tidak. Perlawanan kami melampaui batas hutan ini –meluas melalui ekspresi kami atas kebahagiaan kolektif dan individu, yang tidak bisa dipahami oleh imajinasi sempit para polisi dan para penguasa yang mereka lindungi. Kami tertawa lebih kencang dari mereka dan kami merasa lebih senang bahkan of tengah-tengah serangan mereka. Jatuh cinta pada hutan ini berarti jatuh cinta pada satu sama lain dan pada kemungkinan dunia ini—Sebuah cinta yang tidak akan pernah bisa dimengerti oleh para polisi, dan karena itu tidak akan bisa mereka hancurkan.

No cop city, no Hollywood dystopia!

Penulis: Anonim

Catatan ini adalah arsip tulisan kedua dan ketiga dari cerita pergerakan kawan-kawan yang memperjuangkan eksistensi hutan Weelaunee di Amerika Serikat dari perampasan lahan untuk pembangunan kompleks pelatihan polisi dan Sound Stage raksasa Blackhall Studios milik Ryan Millsap.

Sumber: Beneath the Concrete, The Forest. Hal 4-5, Crimethinc.

Link full text berbentuk pdf dan berbahasa Inggris: beneath-the-concrete_print_black_and_white.pdf (crimethinc.com)